![]() |
| Add caption |
Rabu, 14 Mei 2014
Sabtu, 03 Mei 2014
Puisi Chairil Anwar Beserta Ulasannya
Kumpulan Puisi Chairil Anwar Lengkap - Siapa yang tidak kenal
dengan Chairil Anwar, beliau adalah seorang ytokoh pejuang yang berjuang
melalui karya dari puisi-puisinya. Chairil Anwar lahir di Medan pada 26
Juli 1992. Chairil Anwar sendiri merupakan seorang penyair terkemuka di
Indonesia yang telah melahirkan banyak karya terutama puisi-puisi yang
menyimpan arti yang sangat mendalam. Saat ini mungkin anda tengah kangen
dengan karya-karya dari puisi Chairil Anwar, dan kami pun akan memberikan ulasannya untuk anda semua.
Puisi Chairil Anwar
Chairil Anwar mendapatkan julukan "Si Binatang Jalang" yang berdasarkan
pada karya puisinya yang berjudul 'Aku'. Chairil Anwar memang telah
menelurkan banyak puisi hingga puisinya pun menjadi melegenda dan
menjadi sejarah, bahkan mungkin dalam pelajaran Bahasa Indonesia di
sekolah kita sering melihat karya puisi Chairil Anwar. Seperti yang tadi
telah dikatakan bahwa kami akan memberikan beberapa puici Chairil Anwar
yang tak akan lekang oleh waktu, untuk itu lebih baik langsung kita
simak saja kumpulan puisi Chairil Anwar di bawah ini.
TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Februari 1943
AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!
HAMPA
kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.
RUMAHKU
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu
27 april 1943
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu
27 april 1943
DOA
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…
1944
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…
1944
Puisi Chairil Anwar
Itulah tadi kumpulan puisi Chairil Anwar lengkap. Semoga saja
tulisan ini dapat bermanfaat untuk semua pembacanya, terutama bagi para
pelajar yang mendapatkan tugas untuk mencari kumpulan puisi Chairil
Anwar.
Sabda Theatre
Pertunjukan Teater dari Kota Bandung
Dalam rangka roadshow ke- 2, mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung (STTTB) mengunjungi kampus UIN Sunan Ampel, Surabaya. Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok teater Tjerobong Paberik, Kamis malam (27/02) menggelar pertunjukan yang bertajuk “ A.I.U.E.O.”
“Karya Roma Hamonangan Pane ini menyampaikan suatu fenomena di Indonesia, mengenai carut marut keadaan pemerintahan khususnya pada sistem kepemimpinan. Sebentar lagi Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi. Sehingga dengan pertunjukan ini diharapkan rakyat Indonesia bisa mengenali dan memahami karakter setiap calon,” ujar M.Sudiatmo, Dewan Pengawas Teater Tjerobong Paberik.
Selain menampilkan pertunjukan teater, para mahasiswa dari STTTB ini juga memainkan alat musik tradisional Sunda. Karinding dan Celempung dua alat musik dengan mahir mereka mainkan. Penonton yang memenuhi Auditorium UIN Sunan Ampel terlihat antusias dan menikmati pertunjukan malam itu.
Kerjasama dari Teater Tjerobong Paberik diamini pengurus Sabda Theatre, UKM teater UIN Sunan Ampel. “ Menjadi suatu kebanggaan bagi kami, bisa mengadakan pertunjukan dari kota lain. Selain manjalin silaturahmi kami dapat berbagai ilmu dari dunia teater,” ujar Lubet Arga Tengah, pengurus Sabda Theatre kepada Majalah SCG. (Foto: Anna/Ist.)
Dalam rangka roadshow ke- 2, mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung (STTTB) mengunjungi kampus UIN Sunan Ampel, Surabaya. Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok teater Tjerobong Paberik, Kamis malam (27/02) menggelar pertunjukan yang bertajuk “ A.I.U.E.O.”
“Karya Roma Hamonangan Pane ini menyampaikan suatu fenomena di Indonesia, mengenai carut marut keadaan pemerintahan khususnya pada sistem kepemimpinan. Sebentar lagi Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi. Sehingga dengan pertunjukan ini diharapkan rakyat Indonesia bisa mengenali dan memahami karakter setiap calon,” ujar M.Sudiatmo, Dewan Pengawas Teater Tjerobong Paberik.
Selain menampilkan pertunjukan teater, para mahasiswa dari STTTB ini juga memainkan alat musik tradisional Sunda. Karinding dan Celempung dua alat musik dengan mahir mereka mainkan. Penonton yang memenuhi Auditorium UIN Sunan Ampel terlihat antusias dan menikmati pertunjukan malam itu.
Kerjasama dari Teater Tjerobong Paberik diamini pengurus Sabda Theatre, UKM teater UIN Sunan Ampel. “ Menjadi suatu kebanggaan bagi kami, bisa mengadakan pertunjukan dari kota lain. Selain manjalin silaturahmi kami dapat berbagai ilmu dari dunia teater,” ujar Lubet Arga Tengah, pengurus Sabda Theatre kepada Majalah SCG. (Foto: Anna/Ist.)
Puisi Chairil Anwar
DERAI DERAI CEMARA
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
1949
Karya Chairil Anwar
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
1949
Karya Chairil Anwar
Rabu, 01 Januari 2014
Sabtu, 14 September 2013
Ulang Tahunku
Ibu, kali ini adalah tanggal yang serupa dimana aku dilahirkan. setelah 8
bulan lamanya aku bertapa dalam rahimmu kala itu. saat ini usiaku
semakin menua dan kecemasan selalu datang. cemas karena takut lepas dari
harapmu. tapi aku yakin dengan doamu yang kau sampaikan malam ini akan
menjadi azimat dalam perjalananku. terimakasih atas doamu ibu. 15 September 1993
Sabtu, 23 Maret 2013
Lomba Cipta Puisi 2013 se-Surabaya
Lubet Tengah: Lomba Cipta Puisi se-Surabaya 2013: AYO… IKUTAN LOMBA CIPTA PUISI ” Semangat manusia tidak bisa dilumpuhkan. Jika anda masih bisa bernapas, maka Anda masih bisa memp...
Lubed Tengah: Lomba Cipta Puisi se-Surabaya 2013
Lubet Tengah: Lomba Cipta Puisi se-Surabaya 2013: AYO… IKUTAN LOMBA CIPTA PUISI ” Semangat manusia tidak bisa dilumpuhkan. Jika anda masih bisa bernapas, maka Anda masih bisa memp...
Lomba Cipta Puisi se-Surabaya 2013
AYO…
IKUTAN LOMBA CIPTA PUISI
” Semangat manusia tidak bisa
dilumpuhkan.
Jika anda masih bisa bernapas, maka Anda
masih bisa mempunyai impian “
_ MIKE BROWN _
Setiap saat dalam hidup kita adalah ibarat
gambar yang belum pernah terlihat, dan gambar yang tidak akan pernah terlihat
lagi. Jadi, nikmati hidup ini dan jadikan setiap momen menjadi indah dengan
cara berkarya.
Berkenaan dengan hal itu, dalam rangka Dies
Natalis Sabda Theatre XVIII, mengadakan lomba cipta puisi se-Surabaya. Kami
berharap, lomba ini bisa menggairahkan dunia sastra terutama puisi di
lingkungan kita.
Adapun syarat dan ketentuan lomba
sebagai berikut:
- Peserta Pelajar/Mahasiswa di Surabaya.
- Puisi bertemakan “Memasuki Dunia Baru Kehidupan”.
- Lomba ini tidak dikenakan biaya pendaftaran (gratis).
- Naskah puisi tidak boleh bersinggungan dengan unsur SARA Pornografi, Narkoba maupun sejenisnya.
- Naskah puisi ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar (EYD).
- Karya tidak pernah dipublikasikan di media cetak dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba yang sejenis.
- Naskah harus asli, bukan terjemahan, saduran atau hasil plagiat.
- Melampirkan biodata singkat penulis dan nomor kontak di akhir naskah puisi.
- Peserta lomba hanya boleh mengirimkan satu karya.
- Naskah puisi ditulis dengan kertas A4 dengan Font Times New Roman, ukuran 12 spasi 1,5.
- Puisi bisa dikirim ke Sekretariatan Sabda Theatre atau email lubet_tengah@yahoo.co.id dan CC ke mahrusalief@gmail.com. dengan format subject ciptapuisits18_judul puisi_nama penulis.
- Melampirkan scan foto diri dan scan identitas diri (KTM/KTP dll.)
- Pengiriman karya paling lambat tanggal 10 Mei 2013 pukul 24.00 WIB.
Kriteria Penilaian:
·
Orisinalitas tema.
·
Kreatifitas pemilihan kata/diksi.
·
Keindahan dan kedalaman pesan.
·
Kelengkapan naskah puisi. Jika tidak memenuhi syarat peserta di atas
maka naskahnya dinyatakan gugur.
HADIAH
·
Juara I : Uang pembinaan + buku
antologi puisi + cindera mata + sertifikat penghargaan.
·
Juara II : Uang pembinaan + buku
antologi puisi + cindera mata + sertifikat penghargaan.
·
Juara III : Uang pembinaan + buku
antologi puisi + cindera mata + sertifikat penghargaan.
Ketentuan Mengikat
Keputusan
Dewan Juri tidak bisa diganggu gugat. Panitia tidak melayani surat-menyurat.
Dewan juri berhak membatalkan keputusannya, jika dikemudian hari diketahui
karya pemenang lomba melanggar karya cipta orang lain (plagiat). Hak
cipta tetap ada pada penulis, sedangkan panitia memiliki hakuntuk
mempublikasikannya.
Ø 10 karya terbaik, penulis akan
diundang untuk membacakan puisinya
Ø Pengumuman pemenang tanggal 23
Mei 2013
CP: Ahmad LB Dillah 0878-52-4321-93
Minggu, 06 Januari 2013
Lomba Cipta Puisi 2013 Lubet Tengah
Lomba Cipta Puisi 2013
08/01/2012
EVENT deadline 31 Mei 2013 di lombapuisiWR@gmail.com
SYARAT PENULISAN:
- Jumlah halaman maksimal 3 lembar, spasi 1,5, jenis huruf Times New
Roman font 12, ukuran kertas A4, margin/garis tepi semua sisi 3
cm/1,18 inchi.
- Setiap peserta hanya boleh mengirim 1 puisi.
- Mencantumkan nama penulis dan biodata narasi singkat pada bagian akhir naskah puisi.
- Kirim karya ke alamat email: lombapuisiWR@gmail.com
- Judul/Subjek email tulis: LKP 2012#Judul Puisi#Nama Penulis.
- Melampirkan Nomor Anggota SMPO Writing Revolution (bagi peserta
Sekolah Menulis Puisi Online/SMPO) dan scan/foto bukti transfer biaya
lomba bagi yang bukan anggota SMPO.
Syarat Peserta:
- Terbuka untuk anggota SMPO dan umum.
- Gratis khusus bagi peserta SMPO. Bagi Anda yang ingin bergabung di SMPO silakan klik di sini: http://writing-revolution.blogspot.com/2011/03/sekolah-menulis-puisi-online-smpo-harga.html
- Sedangkan bagi peserta umum (bukan anggota SMPO) dikenakan BIAYA
PENDAFTARAN sebesar Rp 10.000,- untuk tiap peserta (silakan transfer ke
nomor rekening bank berikut ini).
Bagi peserta Umum (bukan anggota SMPO) Silakan Transfer ke Rekening ini:
- BCA 2200-45-1972 CAB. PEKANBARU AN. Joni Lis Efendi
- BRI BritAma: 2087-01001-202500 AN. Joni Lis Efendi, KCP. PANAM
- BANK MANDIRI SYARIAH: 095-7046-370 AN. Joni Lis Efendi, KCP. PANAM
- BNI: 023-9924-067 AN. Joni Lis Efendi, KCP. PANAM
KRITERIA PENILAIAN
- Orisinalitas tema.
- Kreativitas pemilihan kata/diksi.
- Keindahan dan kedalaman pesan.
- Kelengkapan naskah puisi. Jika tidak memenuhi syarat peserta di atas maka naskahnya gugur.
HADIAH
Juara I : Rp 1.000.000,- (ditambah 3 buku antologi pemenang Lomba Cipta Puisi 2012 dan sertifikat penghargaan)
Juara II : Rp 750.000,- (ditambah 2 buku antologi pemenang Lomba Cipta Puisi 2012 dan sertifikat penghargaan)
Juara III : Rp 500.000,- (ditambah 2 buku antologi pemenang Lomba Cipta Puisi 2012 dan sertifikat penghargaan)
Juara Harapan I : Rp 300.000,- (ditambah 2 buku antologi pemenang Lomba Cipta Puisi 2012 dan sertifikat penghargaan)
Juara Harapan II : Rp 200.000,- (ditambah 2 buku antologi pemenang Lomba Cipta Puisi 2012 dan sertifikat penghargaan)
Juara Harapan III : Rp 100.000,- (ditambah 2 buku antologi pemenang Lomba Cipta Puisi 2012 dan sertifikat penghargaan)
15 Orang Nominator (di luar pemenang) mendapatkan 1 buku antologi dan sertifikat.
KETENTUAN MENGIKAT
Keputusan DEWAN JURI tidak bisa diganggu gugat.
Panitia tidak MELAYANI SURAT-MENYURAT.
DEWAN JURI berhak membatalkan keputusannya, jika di kemudian hari
diketahui karya pemenang lomba melanggar karya cipta orang lain
(plagiat).
HAK CIPTA tetap ada pada penulis, sedangkan PANITIA memiliki HAKuntuk MEMPUBLIKASIKANNYA.
NOMOR KONTAK:
0274-8593096/0857-6320-8009
Pengumuman Pemenang 25 Juni 2013
Sabtu, 08 Desember 2012
Akhudiat
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
| Akhudiat | |
|---|---|
| Lahir | 5 Mei 1946 (umur 66) Karanganyar, Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur |
| Pekerjaan | Penulis |
| Kebangsaan | |
| Istri/Suami | Mulyani |
| Anak | Ayesha, Andre Muhammad, Yasmin Fitrida |
Daftar isi |
Pendidikan dan Karir
Menempuh pendidikan Sekolah Rakyat(SR) Rogojampi, Banyuwangi, lulus tahun 1958, lalu melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama Pertama Negeri (PGAPN) IV Jember, lulus tahun 1962, kemudian melanjutkan sekolah di PGAA Malang sambil mengajar di beberapa SMP/SMA, serta madrasah tsanawiyah/aliyah.[2] Selepas itu, Diat belajar di Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) III Yogyakarta, lulus tahun 1965.[2] Tahun 1972—1973, kuliah di Akademi Wartawan Surabaya (AWS) namun tidak tamat.[2]Sejak tahun 1970 diangkat sebagai pegawai negeri sipil di Kantor Pusat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya.[2] Jabatan terakhirnya adalah Kepala Bagian Kemahasiswaan, Kantor Pusat IAIN Sunan Ampel Surabaya, pensiun tahun 2002.[2] Setelah pensiun, sejak tahun 2002 hingga sekarang, ia menjadi Dosen Luar Biasa pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya.[2]
Akhudiat menjabat sebagai Komite Sastra dan Teater di Dewan Kesenian Surabaya tahun 1972—1982.[2]Pada tahun yang sama (1972—1982), juga sebagai sutradara dan penulis naskah teater di komunitas Bengkel Muda Surabaya (BMS). Ia menjadi anggota pleno di Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) sejak tahun 1999 hingga sekarang.[2]Menjabat sebagai steering committee Festival Seni Surabaya (FSS) sejak tahun 2000 hingga sekarang.[2]
Karya dan Proses Kreatif
Pernah ikut kursus akting di Teater Muslim pimpinan Mohamad Diponegoro pada 1965,[3], juga berguru di kelompok teater Arifien C. Noer. Di bidang teater, Akhudiat juga mementaskan drama selain berperan sebagai aktor.[2]Tulisan pertama Akhudiat adalah tentang Markeso, seorang aktor tunggal “Ludruk Garingan”, dimuat di Surabaya Post tahun 1970. Drama Indonesia sampai tahun 1970an, biasa menggunakan panggung prosenium, yakni konsep panggung yang mengangankan bingkai gambar dua dimensi yang tampak depan, samping, dan satu fokus utama, di mana gambar atau adegan itu meniru alam atau dunia di luar panggung, sehingga adegan di panggung dibuat dalam latar seperti suasana di dalam rumah dengan segala perlengkapan perabotannya, atau adegan hutan, jalan, pantai, taman, dengan layar scenery dan para pelaku duduk-duduk atau jejer wayang dalam melakoni nasibnya.[2] Menurut Diat, panggung indah dan rapi yang sudah berlangsung sejak era Stamboel atau Opera Melayu, dan masih bisa dilihat turunannya pada panggung Srimulat, Ketoprak, atau Ludruk, tersebut kurang imajinatif, kurang “liar”, dan terlalu “diatur”.[2] Menyikapi hal tersebut, bersama komunitas Bengkel Muda Surabaya, Akhudiat menawarkan panggung yang lain, yaitu “panggung kosong”.[2]
Konsep panggung kosong tersebut adalah konsep yang menganggap dunia panggung sebagai dunia imajiner, make-believe, pura-pura, rekaan, mungkin tiruan alam luar panggung, mungkin juga tidak. Bisa berasal dari mana pun: gagasan sejarah, pengalaman, peristiwa sehari-hari, berita/artikel, mimpi, bahkan pure nothing, diraih dari angin. Maka muncullah di panggung, orang atau barang, baik sebagai pelaku/pelakon atau properti/alat bermain.[2] Semuanya berubah, bergerak, berombak, berirama, berganti, bertukar, berkeliaran, bahkan berontak, menjadi lakon. Maka adegan-adegannya dominan out-door/exterior. Dengan konsep tersebut, drama bisa dimainkan di mana pun, baik di dalam gedung, taman, lapangan, halaman, pendapa, arena, atau di mana saja.[2] Karena itu, beberapa lakon awal Akhudiat dijuluki “teater jalanan.”[2]
Dengan pikiran “teater jalanan”, Diat mendapat gagasan ketika sering ketemu corat-coret (graffiti, tunggal: graffito) berupa tulisan atau cukilan di tembok, pohon, batu, bangku, gardu, halte, stasiun, terminal, tempat wisata, atau di mana pun, yang hanya berisi dua nama, pemuda dan pemudi yang sedang bercinta.[2] Pesan singkat ini tentu mengandung kisah panjang di baliknya. Coretan atau “Grafito” kemudian dijadikan judul naskah dramanya.[2] Grafito yang ditulis tahun 1972 ini berkisah tentang dua remaja, Ayesha dan Limbo, ketemu di jalanan. Keduanya adalah pemimpin geng yang terlibat dalam kisah love/hate, cinta/benci.[2]
Pada tahun 1973, puisinya berjudul Gerbong-gerbong Tua Pasar Senen, mendapat juara II Lomba Penulisan Puisi versi Dewan Kesenian Surabaya.[2] Karya dramanya, Jaka Tarub dan Rumah Tak Beratap, memenangkan lomba naskah drama versi Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1974.[2]
Cerpen Diat, “New York Sesudah Tengah Malam”, yang pertama kali dimuat di Majalah Horison, Oktober 1984, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Dede Oetomo, dosen Unair Surabaya, dengan judul New York After Midninght, diterbitkan dan dijadikan judul buku kumpulan sebelas cerpen Indonesia dari 11 cerpenis, merujuk pengalaman tinggal di Amerika Serikat serta pandangan mereka tentang Amerika.[2] Buku tersebut disunting oleh Satyagraha Hoerip (Oyik), diterbitkan Executive Committee, Festival of Indonesia, USA, 1990-1991.[2] Diterjemahkan lagi oleh John H. McGlynn, New York After Midninght, dimasukkan dalam kumpulan puisi, cerpen, dan esai tentang New York setelah mengalami tragedi 11 September 2001.[2] Terjemahan McGlynn ini dimuat oleh majalah Persimmon, Asian Literature, Art and Culture, Volume III, November 1, Spring 2002, diterbitkan Contemporary Asian Culture, New York.[2]
Karya dramanya, Jaka Tarub, termasuk salah satu karya yang dimuat dalam kompilasi seratus tahun drama Indonesia dalam buku Antologi Drama Indonesia Jilid 3, 1946-1968.[1] Termasuk karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul sama, dimuat dalam The Lontar Anthology of Indonesian Drama 3: New Directions 1965-1998.[4] Menurut Cobina Gillit, editor The Lontar anthology of Indonesian Drama Vol. 3, karya Akhudiat tersebut dipilih sebagai representasi karya drama yang mengadaptasi cerita rakyat, yang merupakan jenis karya dominan di Jakarta, khususnya pada awal 1970an.[4]
Tahun 1975 ia mengikuti Iowa International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat.[1]
Keluarga
Akhudiat menikah dengan Mulyani pada 4 November 1974, mempunyai 3 anak: Ayesha (lahir pada 1975), Andre Muhammad (lahir pada 1976), dan Yasmin Fitrida (lahir pada 1978). Bersama keluarganya, Akhudiat sekarang tinggal di Surabaya.Hasil karya
Karya Asli- Gerbong-Gerbong Tua Pasar Senen (antologi puisi dan prosa, 1971)[1]
- Grafito (drama 1972)[1]
- Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap dan Langit Dekat dan Langit Jauh (drama, 1974)[1]
- Jaka Tarub (drama, 1974)[1]
- Bui (drama, 1975)[1]
- Re (drama, 1977, drama-drama ini merupakan pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Dewan Kesenian Jakarta)[1]
- Putih dan Hitam (drama, 1978)[1]
- Suminten dan Kang Lajim (drama anak, 1982)[1]
- Mencari Air dalam Air (kumpulan puisi, 1983)[1]
- Cerita Pendek dari Surabaya (antologi cerpen, 1991; ed. Suripan Sadi Hutomo)[1]
- Bermula dari Tambi (antologi cerpen, 2000)[1]
- Memo Putih (antologi puisi, 2000)[1]
- Menyambung yang Patah(skenario film sinetron, 1984)[3]
- Endang Baru (skenario film sinetron, 1984)[3]
- Fred karya Sherwood Anderson yang kemudian diubah berjudul Kematian di dalam Hutan
- Sumur karya Agusto Cespedes
- Model karya Bernard Malamud
- Apotek karya Anton Chekov
- Kisah Pohon Abu karya Peter Handke
- Benang Laba-laba karya Ryonusuke Akutagawa
- Raja Ubu karya Alfred Jarry
- Jalan Tembakau karya Erskine Caldwell
- Katastrof dari New Yorker, drama absurd karya Samuel Beckett, .
Rujukan
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o (Indonesia) Antologi Drama Indonesia Jilid III. Amanah-Lontar, 2006, Jakarta. ISBN 979-99858-4-6
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z (Indonesia) Aminoedhin, Aming. "Sosok Sastrawan yang Dramawan". Diposting 19 Februari 2009 di http://malsasaakbar.blogspot.com/2009/02/biodata-akhudiat.html diakses pada 14 Desember 2011, Biodata Akhudiat
- ^ a b c (Indonesia) Rampan, Korrie Layun. Leksikon susastra Indonesia. Balai Pustaka, 2000, Jakarta. Halaman 33. Biografi Akhudiat (Diat)
- ^ a b (Inggris) The Lontar anthology of Indonesian Drama Vol. 3. Lontar Foundation, 2010, Jakarta. hlm xv-xvi
Pada Bantal Berasap Kumpuilan Puisi Afrizal malna
Judul : Pada Bantal Berasap
Penulis : Afrizal Malna
Penerbit : Omahsore 2010, Yogyakarta
Tebal : 293 hlm; 12.5 cm x 19 cm
ISBN :978-602-96582-1-7
Harga: 60.000
Jalan Bahasa Afrizal Malna
DALAM perkembangan kesusastraan Indonesia, Afrizal Malna dapat ditandai sebagai satu noktah tersendiri, sebagaimana juga Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan Soetardzi Calzoum Bachri pada zamannya masing-masing. Noktah itu adalah sebuah deviasi, sebuah titik yang membuat bingkai jadi retak, lalu ia keluar: menyimpang sendiri.
Karena demikian adanya, tidak semua orang bisa memahami sajak-sajak Afrizal meskipun mungkin menyukainya. Bukti ia disukai adalah begitu banyak penyair yang menjadi epigon Afrizal. Sementara itu, salah satu bukti dari sulitnya dipahami adalah tidak satu pun epigonnya itu berhasil, semuanya bisa dibilang gagal menulis puisi.
Akan tetapi, sulit dipahami bukan berarti tidak bisa dipahami. Lewat tulisan pendek ini akan dicoba diurai, apa sebenarnya yang "dilakukan" Afrizal melalui sajak-sajaknya tersebut. Akan tetapi, sebelumnya perlu diketahui bahwa tahun ini, Afrizal menerbitkan kumpulan puisi yang terdiri atas lima kumpulan terpisah sebelumnya. Kumpulan terbaru itu ia beri tajuk ”Pada Bantal Berasap”. Terkait kehadiran buku tersebut pula esai ini disusun.
Jalan keluar dari struktur
Barangsiapa membaca sajak Afrizal dengan frame konvensional bahwa sajak harus me-ngandung makna dan nilai tertentu, kiranya ia akan sangat kecewa. Sebab, melalui sajak-sajaknya, hemat saya Afrizal tidak memiliki ambisi untuk mengedepankan makna dan nilai konvensional tertentu yang biasanya secara parsial terbangun pada masing-masing sajak. Sajak-sajak Afrizal harus dilihat secara keseluruhan sebagai sebuah konstruksi gagasan besar yang terakumulasi dari kegelisahan penyair sepanjang proses keberkaryaannya. Bagi saya, kegelisahan yang dimaksud adalah kegelisahan mengenai bahasa-yang dengan demikian mengenai sajak itu sendiri. Melalui sajak-sajaknya, Afrizal seperti hendak mengajak pembaca mencari "jalan keluar bagi bahasa" yang sepanjang sejarah perjalanan bahasa itu sendiri memang selalu menjadi perdebatan.
Salah satu contoh terkait topik tersebut, periksalah sajak berjudul ”Blax Box” (hal. 26), misalnya. Melalui sajak ini Afrizal tampak meresepsi sekaligus mempertanyakan konsep linguistik Sausurian yang melihat hukum arbitrer (manasuka) dalam bahasa. Proses penamaan objek (terbentuknya kata) dalam realitas dilihat Saussure sebagai proses yang terpisah dari realitas itu sendiri. Penamaan atas objek adalah pengambilan objek itu dari realitas dan kemudian menempatkannya dalam struktur (sistem) yang disepakati bersama sebagai konvensi. Di dalam struktur, kata-kata kemudian saling berelasi dan membentuk maknanya. Fonem sebagai pembeda bunyi menjadi salah satu yang berperan penting dalam proses pembedaan itu. Kasir memiliki makna semata-mata karena ada kata lain yang berbunyi kasur, misalnya. Dengan demikian, dalam proses penciptaan makna, kata menjadi tidak penting, yang penting adalah relasinya dalam struktur. Alhasil, struktur menjadi yang utama.
Afrizal mengonkretisasi konsep tersebut melalui bait pertama ”Black Box” sebagai berikut: "nabi/ kalau n diganti dengan b, dia menjadi babi/tidak nabi/ kalau b diganti dengan n, dia menjadi/nani/ tidak babi. black box. kalau b diganti dengan p, dia menjadi napi/ tidak nani/ kalau n diganti dengan r, dia menjadi rabi/ black box/ tidak napi/kalau b diganti dengan s, dia menjadi nasi/ kalau/s diganti dengan r, dia menjadi nari/ black box/tidak rabi atau nasi".
Akan tetapi, Afrizal tidak berhenti sampai di situ. Makna kata yang dibedakan karena perbedaan bunyi tersebut kemudian ia kritisi. Penyair ini agaknya tidak percaya dengan hukum tersebut sehingga pada bait berikutnya ia menulis, "tapi setiap kata/yang kita tanam. Jaraknya tak terukur/lebih jauh jarak dari musim semi dengan seekor/keong yang berjalan di atas lidah kita". Lantas Afrizal menempatkan kata sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan tersendiri, menempatkan bahasa sebagai ruh, sebagai realitas yang hidup, bukan sekadar permainan bunyi. Untuk itu, pada bait terakhir ia menulis, "aku tak tahu bagaimana kata-kata menciptakan/kembali manusia seperti speaker dalam kobaran/api/black box//.”
Langkah ekstrem di tikungan paradigmatik
Kasus lain dari tawaran "jalan bahasa" Afrizal adalah pengubahan paradigmatik atas bahasa. Merujuk pada semiotika Roland Barthes (yang juga rujukan awalnya dari Saussure) mengenai dikotomi sintagmatik-paradigmatik dalam bahasa, Afrizal lagi-lagi mengedepankan persepsi yang menarik. Pada poros sintagmatik Saussure, kata-kata dalam struktur baru-bisa berfungsi jika hukum strukturnya tidak dirusak, misalnya ia harus tersusun sebagai jajaran subjek (P), predikat (P), dan objek (O). Kata-kata yang hadir (presence) pada struktur ini, dalam poros paradigmatik bisa saling bertukar dengan kata-kata lain yang tidak hadir (in absentia), dan hal ini hanya terjadi pada benak pembaca sebagai asosiasi. Saussure ataupun Barthes tidak membatasi asosiasi ini; yang difokuskan dalam kajiannya (linguistik struktural Saussure dan semiotika struktural Barthes) memang fungsi bahasa sebagai tanda pada struktur itu sendiri.
Dengan rujukan tersebut, bisa dilihat bahwa sajak-sajak Afrizal secara keseluruhan bermain pada poros sintagmatik yang ketat, tetapi sangat liar pada poros paradigmatik. Dengan kata lain, Afrizal konvensional secara sintagmatik, tetapi inkonvensional secara paradigmatik. Perhatikan, misalnya, larik "kotak-kotak kardus sibuk berbenah, dari malam hingga pagi tiba". Kata kotak-kotak kardus pada larik ini adalah kata yang dipilih secara ekstrem dari poros paradigmatik dan kemudian ditempatkan sebagai subjek pada poros sintagmatik. Kata itu sama sekali tidak mengganggu struktur. Kita bisa secara ekstrem pula mengganti kata kotak-kotak kardus itu de-ngan kata para pemulung, misalnya, sehingga lariknya menjadi "para pemulung sibuk berbenah, dari malam hingga pagi tiba". Dengan demikian, larik ini menjadi sangat konvensional.
Cara menyeleksi dan mempertukarkan kata (proses membandingkan, metaforarisasi) yang ekstrem demikian kiranya yang menyebabkan sebagian pihak menilai sajak Afrizal sangat sukar dipahami. Kesukaran itu terjadi karena cara kita melihat bahasa memang sa-ngat konvensional. Bahasa hanya dilihat sebagai alat untuk mendeskripsikan, bukan sebuah entitas tersendiri yang memiliki daya mengonstruksi dunia hingga ke titik yang pa-ling misterius.***
Acep Iwan Saidi, Ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB
Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 16 Mei 2010
Sajak Pertemuan Mahasiswa
Oleh : W.S. Rendra
Matahari terbit pagi inimencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini memeriksa keadaan.
Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”
Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”
Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu kita bertanya : “Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba. Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.
Dan esok hari matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai menjadi ombak di samodra.
Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana !
Jakarta 1 Desember 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi
Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, yang disutradarai oleh Sumandjaja.
============================================
Sajak Sebatang Lisong
Oleh : W.S. Rendra
Menghisap sebatang lisongmelihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat, dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit. Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya, tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan, tanpa pepohonan, tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………
Menghisap udara yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya, tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.
19 Agustus 1977
ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi
Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Institut Teknologi Bandung, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, yang disutradarai oleh Sumandjaya.
===============================================
Langganan:
Postingan (Atom)


